Kamis, 08 Mei 2014

Apa itu Bahagia? Jabatan?


Apa itu bahagia menurut loe?
bahagia adalah ketika kita mampu membuat orang tua bahagia? Yups itu adalah salah satunya. Namun, masalah muncul ketika keinginan orang tua berbanding terbalik dengan keinginan kita. Lalu apakah kita akan diam saja.

Gue pernah dapat cerita di KPP di mana gue pernah magang selama sebulan lebih. Bapaknya udah tua, jabatannya adalah anggota saja, entah kenapa setua ini gak mau jadi kasi atau kepala seksi. Banyak anggota yang lebih malah jadi kepala seksi dengan gaji yang lebih tinggi. Bayangin aja, udah tua, cuma jadi anggota dan tidak punya jabatan tinggi. Beliau dihormatin karena beliau lebih tua dari yang lain dan tentu sudah tahu lapangan dong. Entah mengapa, jabatan itu gak penting di mata dia.

Senin, 28 April 2014

Menantang Dunia itu Gue


Ini hal yang gue gak habis pikir sebenarnya karena memang inilah gue. Gue ngerasa kalau dunia ini gak cukup buat gue, gue butuh lebih dari ini. Ngerasa kalau bumi ini sempit banget dan pengin keluar dari permukaannya pergi ke bulan. Inilah gue. Kadang udah dikasih enak, tapi malah nantang. Yups, gue gak bisa pungkiri kalau gue kadang ngerasa kurang bersyukur atas nikmat Allah yang sudah dikasih ke gue dan sodara-sodara gue dengan cara terus mencoba hal baru dan menantang dunia. 

Selasa, 01 April 2014

Debat Mahkamah Konstitusi Regional Tengah 25-28 Maret 2014, UNS SOLO


Mungkin ini adalah salah satu pengalaman menakjubkan gue selama ehmm 4 hari tiga malam di Solo. Ada sih yang pahit, ada juga yang menyenangkan, tapi hal yang menyenangkan lebih menakjubkan tentunya. Oke guys, gue sedih banget ketika teman se SMA gue susah banget datang ke tempat gue berada, Plis banget gue pengin banget ketemu walau cuma sedetik. Memang usia tiga tahun di SMA atau 6 tahun di SMP dan SMA tidak membuktikan kesetiaan pada pertemanan. Gue yakin ada teman-teman yang gak bisa gue bayangin, dia datang jauh dari rumah hanya untuk ketemu gue walau dia gak bisa naik motor ke kota. Memang kita gak bisa maksain temen kita untuk bersama kita dan itu harus gue yakinin kalau orang berteman kadang hanya karena butuh saja. But, let it forgotten and gone  by gone now!

Rabu, 22 Januari 2014

HAH? Pencuri Motor JUGA ada di Malaysia?

Senja di sore ini akan menemaniku untuk mengantarkan kepada kalian adanya keindahan perbedaan. Perbedaan sudah sangat sering dijumpai dalam keseharian kita. Ada laki-laki ada pula perempuan. Ada malam dan ada pula siang. Kadang cuaca sangat panas dan kadang pula sangat dingin. Perbedaan tidak hanya didapat dengan penglihatan seperti kita melihat wujud laki-laki yang tampan dan perempuan yang anggun. Perbedaan tidak hanya pula dirasakan layaknya merasakan panasnya sinar matahari dan dinginnya hujan. Perbedaan tentu dirasakan dengan pendengaran ketika azan Subuh berkumandang di fajar pagi tanda siang dan azan Magrib menjelang malam. Lalu apakah masih ada yang tidak menerima perbedaan?

Perbedaan itu suatu yang pasti walau aku tidak tahu apakah perbedaan itu mutlak layaknya perbedaan budaya. Budaya tidak seperti perbedaan siang dan malam yang dapat diamati secara ilmiah saja, melainkan budaya adalah proses sejarah yang dilalui oleh sekumpulan orang di suatu wilayah tertentu sebut saja Malaysia dan Indonesia. Ada bagian dari Indonesia yang serumpun dengan Malaysia yaitu bangsa Melayu yang tinggal di pulau Sumatera dan wilayah Malaysia.

Sebenarnya saya tidak pantas menulis perbedaan di antara dua negera di atas tanpa ada buku maupun sumber referensi yang handal. Saya hanya menulis apa yang saya dengar dan apa yang saya lihat saja. Dari segi hukum Indonesia dan Malaysia memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Walau dua negara ini sangat berdekatan tetapi hukum yang diberlakukan masing-masing negara berbeda. Indonesia mengenakan civil law dan Malaysia memberlakukan common law. Hal ini dikarena perbedaan siapa yang pernah menjajah negara itu sebelumnya. Indonesia pernah dijajah oleh Belanda sedangkan Malaysia pernah dijajah oleh Inggris.

Kesempatan Itu

Sebenarnya tidak ada hal yang baru tentang diriku di senja jingga ini di sudut taman di bawah rerindangan pohon ini. Rasanya seperti de javu bahwa aku kembali ke masa lalu dengan rutinitas yang tidak pernah berhenti. Namun kali ini lebih santai entah karena aku yang berbeda atau orang yang di sekitar yang berbeda. Ya, semua berbeda namun aku tetap menjadi Herwin yang ceria dan terus mengerjakan sesuatu dengan grusa grusu dan cekat ceket sepert biasanya. Entah orang lain yang tidak mampu mengejar aku atau aku yang tidak suka terlalu lama berpikir panjang. Aku sendiri tidak tahu tetapi setidaknya di sini aku dipercaya.

Sebenarnya aku tidak percaya apakah mereka percaya padaku karena ilmu yang aku miliki atau kedewasan yang aku capai saat ini. Aku sendiri tidak tahu tetapi satu hal yang aku yakini bahwa mereka percaya padaku. Kepercayaan ini yang akan aku pegang selalu selama aku menghirup napas ini. Ada hal yang sebenarnya ingin aku lakukan seperti yang teman-temanku lakukan di sana yaitu mendirikan desa binaan. Binaan apa saja, taman baca, pengumpulan buku-buku cerita, sekolah hijau, taman bermain, atau hanya desa yang diisi dengan pengajian anak-anak. Sayangnya aku tidak ada kuasa di sini banyak hal yang ingin aku lakukan di sini namun rasanya aku belum mendapatkan kembali rasa percaya diri itu

Selasa, 24 Desember 2013

Keistimewaannya adalah hadiah terindah Tuhan



Libur yang panjang hari ini teman. Tidak ada pekerjaan karena pekerjaan yang saya tunggu tak kunjung menghampiri. Jadi jangan salahkan saya kalau saya tetap menulis sepanjang hari ini. Sunggu menyenangkan ketika otak, mata, dan tangan bekerja selaras untuk terus menulis kejadian demi kejadian yang terjadi dalam hidup.

Kalian pernah menonton video motivasi di mana mereka yang mampu berlari walau tidak punya tangan dan kaki yang sempurna. Wanita tanpa lengan mengkuti pertandingan renang. Mereka tanpa lengan kaki kanan berusaha berlari dan loncat. Mereka yang menangis dalam kemenangan mereka bukan karena merasa mengalahkan kompetitor yang lain. Mereka menangis karena berhasil mengalahkan diri mereka sendiri, musuh paling besar mereka. Mereka berhasil mengalahkan ketidakpercayaan diri mereka, ketidakberdayaan mereka. Mereka menangis bukan untuk menunjukkan kalau mereka mampu berlari tapi karena mereka berhasil membuat kita yang menonton ikut meneteskan mata juga.

Lalu di manakah letak syukur kita?